ii kloter

11 Kloter Pulang Perdana pada 6 September

  • Minggu, 03 September 2017 21:57 WIB

Kepala Seksi Layanan Pemulangan Daker Makkah Edayanti Dasril. (foto: mch)

Makkah (Kemenag) : Fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sudah hampir selesai. Jemaah yang mengambil nafar awal (keluar dari Mina tanggal 12 Zulhijjah) sudah kembali ke hotel masing-masing di Makkah. Sebagian jemaah yang mengambil nafar tsani (keluar dari Mina tanggal 13 Zulhijjah) akan kembali ke hotel pada 4 September 2017.

Selesainya fase puncak haji menandai akan segera dimulainya proses pemulangan jemaah haji gelombang pertama dari Makkah menuju Jeddah lalu terbang ke Tanah Air.

“11 kloter akan mulai diberangkatkan dari Makkah menuju Jeddah pada 6 September mendatang,” terang Kasi Layanan Pemulangan Daker Makkah Edayanti Dasril (Eda) di Makkah, Minggu (03/09).

“Sebanyak 5 kloter akan terbang ke Tanah Air pada 6 September, 6 kloter lainnya terbang pada 7 September mulai dini hari,” sambungnya.

Adapun data sebelas kloter tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kloter 1 Embarkasi Medan (MES 01), berangkat ke Jeddah pukul 01.00 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 11.00 WAS
2. Kloter 1 Embarkasi Jakarta – Pondok Gede (JKG 01), berangkat ke Jeddah pukul 02.00 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 12.00 WAS
3. Kloter 1 Embarkasi Solo (SOC 01), berangkat ke Jeddah pukul 03.30 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 13.30 WAS

4. Kloter 1 Embarkasi Padang (PDG 01), berangkat ke Jeddah pukul 07.10 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 17.10 WAS
5. Kloter 1 Embarkasi Makassar (UPG 01), berangkat ke Jeddah pukul 10.20 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 20.20 WAS
6. Kloter 2 Embarkasi Solo (SOC 02), berangkat ke Jeddah pukul 14.20 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 00.20 WAS, tanggal 7 September 2017

7. Kloter 3 Embarkasi Solo (SOC 03), berangkat ke Jeddah pukul 15.20 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 01.20 WAS, tanggal 7 September 2017
8. Kloter 1 Embarkasi Jakarta – Bekasi (JKS 01), berangkat ke Jeddah pukul 19.15 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 05.15 WAS, tanggal 7 September 2017
9. Kloter 4 Embarkasi Solo (SOC 04), berangkat ke Jeddah pukul 19.30 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 05.30 WAS, tanggal 7 September 2017

10. Kloter 2 Embarkasi Jakarta – Bekasi (JKS 02), berangkat ke Jeddah pukul 23.00 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 09.00 WAS, tanggal 7 September 2017
11. Kloter 1 Embarkasi Balikpapan (BPN 01), berangkat ke Jeddah pukul 22.20 waktu Arab Saudi (WAS), terbang ke Tanah Air pukul 08.20 WAS, tanggal 7 September 2017

“Selanjutnya, akan ada 14 kloter yang kembali didorong dari Makkah ke Jeddah pada 7 September 2017,” jelasnya.

Sumber : kemenag.go.id
Penulis : khoiron
Editor : khoiron
menag

Menag Ajak Jemaah Haji Doakan Muslim Rohingya

  • Senin, 04 September 2017 2:16 WIB

Menag gelar doa bersama untuk Rohingya di Daker Makkah, Minggu (03/09). (foto: danyl)

Makkah (Kemenag) — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak jemaah haji, khususnya jemaah Indonesia, untuk mendoakan masyarakat muslim Rohingya agar segera terbebas penderitaannya. Saat ini etnis Rohingya di Rakhine tengah menghadapi tekanan berupa aksi kekerasan militer oleh rezim berkuasa Myanmar.

Menurut Menag, doa adalah salah satu cara umat Islam untuk membantu sesamanya yang sedang mengalami cobaan atau masalah. Bagi para jemaah haji, berdoa jauh lebih baik ketimbang melakukan hal lain yang tak lebih produktif.

“Tanah Suci memiliki arti yang istimewa terutama di musim haji. Ada sejumlah tempat dan waktu yang mustajabah. Jika jemaah haji yang hakikatnya adalah tamu-tamu Allah berdoa di tempat tersebut di waktu yang tepat, insya Allah doanya akan dikabulkan,” terang Menag usai menggelar Doa Bersama untuk Rohingya di Daker Mekkah, Minggu (03/09).

Doa bersama ini diikuti oleh delegasi Amirul Hajj dan para petugas Daker Makkah. Acara yang diawali Magrib berjamaah disertai pembacaan Qunut Nazilah ini diisi dengan pembacaan Ratib Al-Attas yang dipimpin oleh Naib Amirul Hajj KH Musthafa Aqil Siradj. Adapun pembacaan doa dipimpin oleh KH Harits Sodaqah.

Selain doa yang dikhususkan bagi keselamatan masyarakat Rohingya, Menag berharap jemaah haji juga mendoakan pemerintah agar lancar dan berhasil dalam menjalankan skenario mengatasi krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar. Saat ini pemerintah RI telah melakukan berbagai langkah konkret terkait krisis tersebut.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, hari ini Menteri Luar Negeri Retno L Marsudi bertolak ke Myanmar untuk melakukan lobi politik. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi dengan sejumlah pihak terkait di luar negeri, termasuk PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Komunikasi intensif ditempuh untuk mempermudah upaya penghentian kekerasan, perlindungan warga, akses bantuan keselamatan, rekonsiliasi demokratisasi dan pembangunan inklusif, hingga tercapainya solusi final atas krisis.

Sebelumnya, pemerintah telah memfasilitasi pembentukan aliansi kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar yang beranggotakan 11 ormas Islam dan lembaga sosial. Pemerintah juga telah membangun rumah sakit dan fasilitas pendidikan di Rakhine. Langkah ini merupakan bentuk sinergitas pemerintah dengan masyarakat dalam mengatasi krisis dengan cara konkret.

“Pemerintah jelas tidak tinggal diam terhadap masalah ini. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan secara konkret. Marilah bahu membahu membantu Rohingya dengan cara yang produktif,” kata Menag.

Menag juga mengajak jemaah untuk mendoakan Pemerintah Myanmar agar diberi kesadaran untuk lebih mengedepankan sisi kemanusiaan. Untuk alasan apa pun, Pemerintah Myanmar wajib melindungi harkat dan martabat kemanusiaan masyarakat Rohingya.

“Saya juga minta Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah untuk menyampaikan kepada seluruh kloter dan pembimbing ibadah agar mengajak jemaah haji mendoakan saudara kita di Rohingya saat berada di tempat mustajabah,” tandasnya.

Sumber : kemenag.go.id
Penulis : khoiron
Editor : khoiron
niam

Hukum Menginap di Mina Jadid?

Senin, 28 Agustus 2017 20:27 WIB

Anggota Amirul Hajj KH Asrorun Niam. (foto: danyl)

Sebagian jemaah haji, termasuk dari Indonesia, menempati kawasan yang disebut sebagai Mina Jadid, saat menjalani prosesi mabit atau menginap. Sebagian jemaah ada yang menilai kalau Mina Jadid bukan menjadi bagian dari Mina, sementara sebagian lain berbeda. Lantas, bagaimana sebenarnya hukum  mabit di Mina Jadid?

 

Salah satu Anggota Amirul Hajj yang juga Sekretaris Komisi Fatwa MUI Dr. Asrorun Ni’am, Senin (28/08), memberikan penjelasan sebagai berikut:

 

Selama ini kita cukup akrab dengan istilah Mina Jadid. Sebenarnya, istilah tepatnya bukan Mina Jadid atau Mina Baru, tetapi perluasan area Mina. Ini diijtihadkan seiring dengan bertambahnya jumlah jemaah haji, sementara area Mina tidak bertambah, mulai dari zaman rasul, hingga kini. 

Nah, untuk kepentingan menjaga keselamatan, ketertiban dan keamanan, maka pemerintah Saudi melakukan inisiasi untuk memperluas tempat mabit hingga di luar Mina. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Mina Perluasan. Posisi Mina Perluasan masih dalam posisi ittishal atau nyambung dengan posisi Mina.

Terhadap masalah ini, para ulama berijtihad. Menurut para ulama, perluasan Mina itu pada hakikatnya mirip perluasan tempat shalat, misalnya, pada pelaksanaan Shalat Jumat. Saat masjid penuh, maka pelaksanaan Shalat Jumat di luar masjid itu dimungkinkan untuk dilakukan. Syaratnya ittishal (menyambung). 

Tentu, dalam kondisi normal, kita tidak boleh shalat di jalanan. Sebagaimana dalam posisi normal, kalau Mina kosong, kita tidak boleh mabit di luar Mina. Akan tetapi karena posisi Mina sudah penuh, untuk menjaga kemashlahatan umum, maka bagi yang tidak memperoleh tempat di Mina, dapat menempati di perluasan Mina.

Sumber : kemenag.go.id

DSC_1153

208 Calhaj RAW Diberangkatkan ke Tanah Suci

DSC_1155Tangerang ( RAW) Sebanyak 208 calon jamaah haji 1438 H./2017 yang tergabung dalam rombongan PT.Rihlah Alatas Wisata telah berangkat menuju tanah suci Mekkah-Madinah, Minggu (20/08/2017). Selain dari wilayah Jabodetabek, mereka berasal dari berbagai wilayah Indonesia seperti ; Makassar, Kalimantan, Sumatera Barat, dll.

Setelah dilakukan briefing  oleh Ust.H.Fahrur Rozi dan Ust. Agung Wahyudi dari PT.Rihlah Alatas Wisata, mereka juga mendapat tausiah tentang pahala haji dari Ust. Al-Ghifari.

“Mari kita semua satukan niat untuk melaksanakan ibadah haji, agar ibadah haji kita memperoleh haji mabrur”, kata Ust.H.Al-Ghifari, asal Palangkaraya-

Lebih lanjut ia mengingatkan jamaah agar tetap menjaga persatuan  selama ti tana suci, dan tidak tercerai berai- “..Mari kita satukan langkah, kita bersama dalam melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Kita adalah satu, berada di bawah satu bendera yaitu ; PT.Rihlah Alatas Wisata.”.

Setelah tausiyah, calon jamaah menuju chek poin imigrasi, kemudian rehat sejenak sembari menikmati hidangan yang sediakan PT.Rihlah Alatas Wisata di Transfer Lounge Bandara Soekarno Hatta.

“Alhamdulillah, setiap tahun kita selalu memberangkatkan jamaah haji khusus tidak kurang dari 200-an jamaah”, kata H.Wahyu Alamsyah, salah seorang Genaral Manager PT. RAW Cabang Malaka-Jaya, Duren Sawit..

Selamat menunaikan ibadah haji semoga memperoleh haji mabrur.

haji

PPIH Bersiap Hadapi Puncak Kedatangan Jemaah Di Jeddah

Selasa, 15 Agustus 2017 22:31 WIB

Rakor persiapan penyambutan jemaah jelang fase puncak kedatangan di Bandara KAAIA Jeddah. (foto: mch)

Jeddah (Kemenag) — Jelang puncak kedatangan jemaah haji dunia di Bandara King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) Jeddah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji  (PPIH) melakukan sejumlah persiapan. Salah satunya berkoordinasi dengan  Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.

Koordinasi penting untuk memastikan jemaah haji Indonesia tetap mendapatkan layanannya dalam durasi yang semakin cepat. Langkah koordinatif ini diapresiasi  pejabat otoritas urusan layanan haji di bandara Jeddah Hani Baaqil.

Dia mengapresiasi proses layanan kedatangan jemaah haji Indonesia di bandara  Jeddah yang tetap berlangsung lancar. Meski Indonesia adalah negara dengan jemaah terbanyak, namun menurut Hani tetap taat aturan.

Hani berharap sinergi PPIH dengan  D kementerian Haji bisa terus diperkuat,  utamanya dalam menghadapi puncak kedatangan jemaah yang akan berlangsung  tiga hari ke depan. Tidak hanya Indonesia, jemaah dari berbagai negara pada hari itu akan tiba di Jeddah dalam waktu yang hampir bersamaan. Jumlahnya pun bisa meningkat hingga tiga kali lipat.

“Setelah jemaah keluar dari pintu imigrasi ke plasa menuju bus waktu  idealnya sekitar 40 menit,” tutur pria bergamis putih dan berkacamata ini di kantor PPIH Daker Bandara (14/08), Senin malam.

Kepala Daerah Kerja Bandara (Daker) PPIH Arab Saudi Arsyad Hidayat menjelaskan bahwa Indonesia telah mengantisipasi kepadatan di bandara Jeddah sejak dari Tanah Air. Menurutnya, Ditjen Penyelanggaraan Haji dan Umrah telah membuat surat edaran bagi jemaah gelombang kedua untuk mandi ihram sejak di Embarkasi.

Selain itu, tim Daker Bandara juga membuat terobosan keberangkatan ke Mekkah dalam beberapa hari ke depan. Jemaah  tidak lagi harus berangkat dengan rombongan busnya, tapi bisa digabung dengan rombongan bus lain yang masih dalam satu kloter.

Terobosan ini didukung kesigapan petugas yang terus memberikan pemahaman dan arahan kepada jemaah agar proses layanan kedatangan di bandara berjalan lancar dan cepat.

Selama di bandara, jemaah haji akan melewati proses pengecekan imigrasi dan beacukai. Adapun tas dan paspor jemaah akan diurus oleh maktab wukala.

Usai persiapan umrah, jemaah menuju bus yang telah disiapkan  pihak Naqabah, lembaga swasta penyediaan transportasi bus antara kota. Bus ini oleh PPIH Arab Saudi telah dilakukan upgrading sehingga kualitasnya busnya dipastikan nyaman dan aman.

Terakhir, saat memasuki perbatasan kota Makkah, Muasasah Asia Tenggara akan melakukan pengecekan dokumen jemaah.

Percepatan proses layanan kedatangan di plasa bandara Jeddah ini disaksikan juga oleh Hani Baaqil. Ia memerhatikan dengan seksama bagaimana petugas  PPIH mengarahkan jemaah agar mempercepat pemakaian kain ihram, serta menuju bus untuk di antar ke Makkah.

“Jemaah diminta mematuhi edaran ini, namun masih ada KBIH yang melarang jemaah mandi di tanah air,  selain itu masih banyak kain ihram disimpan di koper,  itu bikin lama, ” terang pria lulusan Al Azhar Mesir ini.

Sumber : MCH 2017
Penulis : Kontri
Editor : khoiron
 WWW.kemenag.go.id
Dibaca : 203 kali
505085

Lebih 21ribu Jemaah sudah di Madinah

Madinah (Kemenag) — Hari keempat pemberangkatan gelombang pertama, tercatat lebih dari 21ribu jemaah haji Indonesia sudah berada di Madinah. Rilis data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) menyebutkan bahwa total ada 52 kloter yang sudah mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah sampai dengan Senin, 31 Juli 2017, petang.

Sebanyak 16 kloter diperkirakan akan kembali tiba di Madinah sampai dengan Selasa (01/08) sore. Mereka berasal dari 8 embarkasi, yaitu:
1. Kloter duabelas sampai empatbelas Embarkasi Solo (SOC 12, SOC 13, dan SOC 14);
2. Kloter tujuh dan delapan Embarkasi Jakarta – Pondok Gede (JKG 07 dan JKG 08);

3. Kloter dua Embarkasi Batam (BTH 02);
4. Kloter tiga Embarkasi Balikpapan (BPN 03);

5. Kloter sebelas sampai tiga belas Embarkasi Jakarta – Bekasi (JKS 11, JKS 12,  dan JKS 13);
6. Kloter dua  Embarkasi Banjarmasin (BDJ 02);

7. Kloter dua belas sampai lima belas Embarkasi Surabaya (SUB 12, SUB 13, SUB 14, dan SUB 15); dan
8. Kloter lima Embarkasi Medan (MES 05)

Sumber : www.kemenag.go.id

kawasan-raudhah-republika-agung-sasongko-_140112203929-272

Hindari Kesalahan-Kesalahan Ini di Raudhah

Ahad , 30 July 2017, 10:29 WIB

IHRAM.CO.ID, Di dalam Raudhah terdapat enam tiang bersejarah, yaitu “Tiang Utusan” yang digunakan Nabi dahulu sebagai tempat menerima utusan yang datang. “Tiang Pengawal” tempat berdirinya para pengawal Nabi. “Tiang Tempat Tidur” yang merupakan tempat Nabi tidur selama i’tikaf.

“Tiang Abu Lubabah” yaitu tiang tempat Abu Lubabah mengikatkan diri karena menyesal telah  membocorkan rahasia kepada orang yahudi. “Tiang Aisyah” yang diyakini ditunjuk Aisyah sebagai tempat Rosulullah mengimami shalat berjamaah.

“Tiang Mukholaqah” tempat bersandar Nabi ke batang pohon kurma saat khutbah jum’at. Di samping itu di Raudhoh ada juga “Mihrab Nabi”. Adapun Rumah Nabi berdampingan dengan Masjid. Kini rumah ini menjadi makam Rasulullah SAW beserta dua shahabatnya Abubakar Shiddiq dan Umar Ibnul Khattab.

Secara khusus, kata Ustaz HM Rizal Fadillah, tidak ditemukan dalil tentang keutamaan shalat atau berdo’a di Raudhoh selain pernyataan Rosulullah SAW dalam Hadits Riwayat Bukhori di atas. Namun fakta yang terjadi tempat antara “rumah” dan “mimbar” ini telah menjadi “rebutan jama’ah” yang fenomenal. Rumah adalah tempat bernaung dan beristirahat. Tempat elemen keluarga membina harmoni berumah tangga. Suami dan istri saling mencintai dan menyayangi sambil membesarkan putera dan puteri buah hati keduanya.

Sementara Mimbar adalah arena perjuangan. Dari mimbar diserukan ajakan untuk beriman kepada Allah, beribadah dengan tekun, dan berjuang memuliakan agama Allah. Dari mimbar Nabi membangun negeri agar warganya sejahtera dan berkah dalam limpahan rahmah dari Allah. Mencegah perilaku rendah dan nista yang menyebabkan mereka menerima murka dan adzab. Mimbar adalah tempat untuk melakukan perjuangan da’wah. Antara “rumah” dan “mimbar” ada “taman surga”.

Dikatakan Ustaz Rizal, semangat jamaah untuk shalat dan berdo’a di Raudhoh memang hal yang bagus dan wajar,  asal saja mereka tidak saling menyakiti. “Areanya terbatas. Kunci keberhasilan ibadah dan kabulnya doa bukan semata ditentukan oleh tempat tertentu seperti Raudhah, akan tetapi di bagian manapun dari Masjid Nabawi kita beribadah, insya Allah menjadi tempat yang baik dan makbul do’a. Syaratnya kita beribadah atau berdoa dengan  tatacara yang benar dan dengan kekhusyuan yang tinggi,” ujarnya.

Walaupun dianjurkan beribadah di Raudhah, tapi para ulama juga memperingatkan beberapa kesalahan yang wajib dijauhi ketika berada di-Raudhah. Di antaranya adalah: ikhtilath (campur-baur) antara lelaki dan wanita di-raudhah.

Selain itu, tradisi ‘ngalap berkah’ kepada kuburan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan cara mengusap-usap dindingnya atau dengan cara lainnya. Kemudian masuk ke Raudhah bermaksud untuk mendekat kepada kuburan Nabi dan beribadah kepada kuburan Nabi SAW, ‘ngalap berkah’ di mimbar Nabi SAW dengan cara mengusap-usapnya.

Sumber : www.ihram.co.id

Redaktur : Agus Yulianto
Sumber : Disarikan dari Pusat Data Republika
menag

Tim PPIH Cek Kesiapan Layanan Jemaah Haji di Saudi

  • Minggu, 23 Juli 2017 21:49 WIB
  • Jakarta (Kemenag) — Musim haji sudah menjelang. Jemaah haji Indonesia akan mulai diberangkatkan ke Saudi pada 28 Juli 2017. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pun mulai bersiap menyambut kedatangan dluyufurrahman (Tamu Allah Yang Maha Rahman).

    Bertolak pada 20 Juli lalu, Tim Advance PPIH Arab Saudi mulai mengecek kesiapan fasilitas layanan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Layanan itu mencakup Akomodasi, Konsumsi dan Transportasi.

    “Kami melakukan pengecekan ulang fasilitas di seluruh Akomodasi Makkah, berjumlah 155 Hotel yang tersebar di enam wilayah, yaitu: Jarwal, Misfalah, Syisah, Raudhah, Aziziyah, dan Mahbas Jin,” terang Kadaker Makkah Nasrullah Jasam melalui pesan singkat, Minggu (23/07).

    “Pengecekan dimulai dari kesiapan kantor sektor dan layanan kesehatan, lalu fasilitas kamar, musholla, kamar mandi, dan lainnya,” sambungnya.

    Menurut Doktor Universitas Abdul Malik As Sa’adi Maroko ini,  pengecekan didasarkan pada catatan yang pernah diberikan oleh PPIH kepada penyedia akomodasi pada saat proses penyediaan. Catatan itu umumnya berupa permintaan pebaikan fasilitas.

    (Ruang mushalla  pemondokan jemaah haji Indonesia di wilayah Syisah Makkah sudah siap digunakan dengan fasilitas karpet baru/foto: istimewa)

    “Misalnya saja, ketika tim penyediaan akomodasi melakukan Kasyfiyah (pengecekan lapangan) ditemukan karpet mushola yang tidak layak sehingga harus diganti, kita pastikan apakah sudah benar-benar diganti atau belum,” kata Nasrullah sembari menyebut nama Hotel Nazrah dan Thayeb yang terletak di wilayah Syisah.

    Pengecekan kesiapan juga dilakukan pada layanan katering. Kabid Katering Abdullah Yunus menyakatan bahwa berdasarkan hasil kunjungan ke dapur-dapur penyedia ketering di Madinah, 80% mereka sudah siap memberikan layanan. “Sisanya hanya masalah pesananan ikan, daging dan ayam, serta bumbu bumbu yang kabarnya baru hari ini akan datang,” ujarnya.

    “Untuk paket coffee shop,   perusahaan sudah menyiapkan,” imbuh lelaki asal Cianjur ini.

    (Tim PPIH mengecek kesiapan layanan coffee shop di salah satu dapur penyedia katering jemaah haji Indonesia di Madinah/foto: istimewa)

    Menurut Abdullah, pengecekan layanan konsumsi saat ini dikonsentrasikan di Madinah, mengingat jemaah gelombang pertama akan tiba lebih dahulu di Kota Nabawi ini pada 28 Juli 2017. Jika layanan katering Madinah sudah berjalan, maka pengecekan akan dilakukan ke Makkah. Jemaah diperkirakan baru akan tiba di Makkah pada 5 atau 6 Agustus mendatang.

    Untuk layanan transportasi, Kabid Transportasi Darat Subhan Cholid mangatakan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan beberapa instansi terkait di Arab Saudi, seperti Naqabah, Muassasah dan perusahan-perusahan bus yang akan melayani Jemaah Haji selama berada di Arab Saudi.

    (Kabid Transportasi Darat Subhan Cholid cek kesiapan layanan bus shalawat di Makkah/foto: istimewa)

    Alumnus Universitas Al Azhar Kairo ini juga sudah mengecek kesiapan stiker yang akan ditempel di bus shalawat, serta bendera yang akan ditempel di halte dan tempat pengecekan bus. “Terminal bus shalawat di Makkah sudah siap melayani jemaah, begitu juga dengan halte-halte tempat menaikkan atau menurunkan penumpang bus shalawat,” tuturnya. (Makki)

    Sumber : –
    Penulis : Kontri
    Editor : khoiron

Visa Jemaah Haji Gelombang Pertama Selesai Pekan Ini

Rabu, 19 Juli 2017 13:14 WIB

Jakarta (Kemenag) — Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Nur Syam mengatakan bahwa pengurusan visa untuk jemaah haji Indonesia yang diberangkatkan pada gelombang pertama akan selesai pada pekan ini.

“Kita bersyukur sampai tanggal 18 sore, jumlah visa yang sudah selesai mencapai 81.497. Jadi masih kurang beberapa ribu lagi untuk jemaah gelombang pertama dan itu kita pastikan selesai pada pekan ini,” ujarnya usat menutup Pembekalan Media Center Haji di Jakarta, Rabu (19/07).

“Total  ada lebih dari 102ribu jemaah yang akan diberangkatkan pada gelombang pertama, mulai 28 Juli hingga 11 Agustus mendatang,” sambungnya.

Terkait hal ini, Nur Syam juga mengingatkan jajarannya agar memastikan kloter-kloter awal yang akan mulai diberangkatkan pada pekan depan sudah fix persiapannya. “Kloter satu sampai lima harus fix soal visa, jangan sampai ada seat kosong,” tuturnya.

Mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini menambahkan bahwa paspor yang saat ini sudah diterima Ditjen PHU untuk diproses visanya mencapai 189.191.  Secara bertahap, paspor yang sudah masuk ini diteruskan ke Kedutaan Besar Arab Saudi untuk diproses visanya.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Kanwil untuk mempercepat proses ini. Kami berharap bisa diselesaikan pada waktunya sehingga tidak lagi ada masalah,” tuturnya.

Kuota jemaah haji reguler Indonesia tahun ini berjumlah 204ribu orang. Mereka akan diberangkatkan dalam dua gelombang. Gelombang pertama diberangkatkan menuju Madinah. Sedang gelombang kedua diberangkatkan menuju Jeddah untuk kemudian ke Makkah. Pemberangkatan gelombang kedua akan berlangsung dari 12 – 26 Agustus 2017.

Kasubdit Dokumen dan Perlengkapan Haji M Sofwan mengatakan, proses penerbitan visa terus dilakukan oleh tim Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah sampai selesai semua. “Proses pengurusan visa itu sendiri mensyaratkan informasi lengkap terkait paket layanan yang akan diterima jemaah selama di Saudi. Ini yang juga harus kita siapkan sehingga pengurusan visa dilakukan secara beratahap,” terang Sofwan.

Disinggung soal potensi keterlambatan visa seperti dua tahun lalu, Sofwan mengaku optimis tahun ini semuanya berjalan sesuai jadwal. “Saya harap visa sudah selesai semua sebelum masa operasional pemberangkatan berakhir sehingga jemaah bisa diberangkatkan sesuai jadwal,” tandasnya.

Sumber : –
Penulis : khoiron
Editor : khoiron
504822

Calon Jemaah Haji Agar Jaga Kesehatan dan Kebugaran

Selasa, 27 Juni 2017 17:29 WIB

Jakarta (Kemenag) — Musim haji 1438H/2017M sudah menjelang. Kurang dari satu bulan lagi, jemaah haji Indonesia dijadwalkan secara bertahap akan mulai berangkat ke Arab Saudi. Kloter pertama rencananya akan mulai terbang ke Tanah Suci pada 28 Juli 2017 dari seluruh embarkasi di Indonesia.

Kasubag Humas Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Nirwan mengimbau calon jemaah haji Indonesia untuk terus menjaga kondisi kesehatannya. Menurutnya,  persiapan kesehatan sejak dari Tanah Air sangat penting mengingat kondisi di Arab Saudi berbeda dengan di Indonesia.

“Tetap jaga kebugaran dan kesehatan kita, atau periksalah kesehatan kita baik di puskesemas, rumah sakit agar diketahui kondisi kesehatan kita,” terangnya melalui pesan singkat di Jakarta, Selasa (27/06).

Dokter Umum Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang ini mengingatkan calon jemaah haji agar tidak terlalu lelah jelang keberangkatan. Hal ini disampaikan Nirwan mengingat menjadi tradisi masyarakat Indonesia untuk menggelar walimatussafar dan menerima banyak tamu jelang keberangkatan. Nirwan berharap calon jemaah bisa mengatur waktu dengan baik sehingga cukup istirahat. Sebab, jika sampai kurang istirahat, itu bisa menyebabkan kondisi kesehatan calon jemaah menurun.

Bagi calon jamaah yang memiliki riwayat penyakit dan diharuskan membawa obat-obatan, lanjut Nirwan, maka obat dimaksud agar dicatatkan di Buku Kesehatan Jemaah Haji (BKJH) dan dicap oleh Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di embarkasi agar tidak menjadi masalah di proses imigrasi bandara kedatangan.

Nirwan yang sehari-hari bertugas  di RSUD Chatib Quzwain Sarolangun Jambi memperkirakan suhu di Arab Saudi pada musim haji sekitar 42-50 derajat celcius. Karenanya, jemaah diimbau untuk memperbanyak kegiatan di dalam gedung saja. Bila terpaksa keluar gedung, lanjut Nirwan, mesti memakai pelindung kepala dan kacamata hitam.

“Jangan lupa senantiasa minum air agar terhindar dehidrasi yang diakibatkan suhu udara begitu panas. Jangan lupa membawa semprotan wajah, sesekali wajah dapat disemprot dengan air dan sering basahi rambut juga dengan air,” ujarnya.

Nirwan juga mengimbau jemaah agar tidak perlu berlebihan membawa barang bawaan. Menurutnya, pakaian yang dibawa secukupnya saja. Makanan juga tidak perlu berlebihan karena bisa dibeli di Tanah Suci.

“Sekarang pelaksanaan haji oleh Pemerintah Indonesia sudah sangat bagus. Makanan untuk jamaah sudah disiapkan. Jadi tidak perlu berlebihan untuk membawa persiapan makanan,  termasuk tak perlu lagi membawa alat-alat untuk memasak,” tandasnya.  (Ramadaniel)

Sumber : –
Penulis : khoiron
Editor : khoiron
Kemenag.go.id